Growth Mindset dan Fixed Mindset. Kamu yang Mana?
General
January 24, 2022

Pernah nggak sih kamu melihat ada orang yang suka mengambil tantangan baru dan nggak takut untuk gagal? Mereka senang belajar, bangkit setiap gagal, dan berusaha lagi untuk mencapai tujuannya. Di sisi lain, ada orang yang merasa hidupnya jalan di tempat, sering takut salah, dan merasa apapun yang dilakukan pasti sia-sia. Menarik ya, melihat kedua contoh ini. Sebenarnya kita bisa melihat perbedaan di antara keduanya dari pola pikir atau mindset mereka. Sebagian orang mungkin memiliki mindset yang ingin terus berkembang, sebagian lagi merasa hidup mereka stuck. Jika dilihat dari perspektif tersebut, maka kita bisa melihat ada dua pola pikir yang berbeda, yaitu growth mindset dan fixed mindset.

Sering membanding-bandingkan diri? Ini pun menjadi perbedaan growth mindset dengan fixed mindset. Semakin sering kamu membandingkan dirimu dengan orang lain, semakin sering pula kamu akan merasa terpuruk dan tidak berkembang.

Memahami perbedaan fixed mindset dan growth mindset

Contoh fixed mindset dan growth mindset

Apa sih growth mindset dan fixed mindset itu, dan apa bedanya?  Perbedaan growth mindset dan fixed mindset ini sebetulnya mudah dibedakan. Kita bahas satu persatu. Orang-orang dengan pola pikir fixed mindset selalu percaya bahwa potensi diri, kelebihan, serta kecerdasan itu merupakan bakat dari lahir, jadi tidak bisa diubah. Sementara orang-orang dengan growth mindset yakin bahwa potensi, kelebihan, serta kecerdasan itu bisa digali dan dilatih.

Perbedaan growth mindset dan fixed mindset selanjutnya adalah tentang kritikan. Orang dengan fixed mindset akan melihat kritikan sebagai serangan secara pribadi, jadi mudah tersinggung, mudah pula merasa gagal. Sementara itu, orang dengan growth mindset akan melihat kritikan sebagai masukan dan pembelajaran untuk berkembang. Contoh, karyawan dengan fixed mindset sulit menerima revisi dari klien, sementara karyawan dengan growth mindset, akan menerima revisi, berdiskusi, dan mencari jalan tengah.

Menyadari bahwa masih ada ruang untuk kesalahan adalah perbedaan growth mindset dan fixed mindset yang lain. Dengan menyadari bahwa kita pun bisa salah, artinya kita membuka kesempatan untuk bertumbuh. Contoh, seorang atlet dengan fixed mindset tidak mau berlatih terlalu keras karena merasa bahwa tekniknya yang paling sempurna, namun atlet dengan growth mindset percaya bahwa tekniknya masih bisa disempurnakan, sehingga ia latihan lebih keras.

Cara mengubah fixed mindset menjadi growth mindset

Cara membangun growth mindset


Lantas seperti apa sih contoh fixed mindset dan growth mindset dalam kehidupan sehari-hari? Dan bagaimana kita bisa mengubahnya? Mari simak beberapa contoh di bawah ini dan cari tahu yang manakah kamu.

 
1. Fixed mindset: "Aku bisa melakukannya dengan baik atau tidak sama sekali.", growth mindset: "Kalau terus berlatih dan usaha yang konsisten, aku pasti bisa mengembangkan kemampuanku!"

Lihat dan tanyakan pada dirimu sendiri, pernahkah kamu kesulitan untuk menguasai sesuatu, namun akhirnya berhasil? Misalnya berhasil mendapat nilai 100 di mata pelajaran sulit ketika ujian sekolah, mahir bermain alat musik yang sudah lama kamu pelajari, atau berhasil mendapatkan pekerjaan impianmu. Sadari bahwa semua orang mampu untuk berkembang dan tidak ada yang memulai sesuatu dari level ahli. Perkembangan merupakan sebuah proses dan perjalanan yang tak ada habisnya. Yang paling penting, kamu berusaha untuk terus mengambil langkah dan membuka ruang untuk improvement.

 
2. Fixed mindset: "Down banget liat si A udah sukses! Aku nggak ada apa-apanya dibanding dia.", growth mindset:  "Wah hebat ya si A, jadi terinspirasi nih dengan kesuksesannya!"

Tidak apa-apa kok kalau kamu merasa buruk akan pencapaian orang lain, hal itu lumrah terjadi. Namun jangan sampai terlalu terbawa oleh perasaanmu. Daripada berlarut-larut dalam emosi yang buruk, ingat dan tanyakan kembali “Bagaimana cara orang ini mencapai kesuksesannya?"
Ketika melihat pencapaian seseorang, kita sering kali lupa bahwa itu hanyalah yang terlihat di permukaan. Di balik itu semua, ada penolakan, kegagalan, kerja keras, kegigihan, dan pembelajaran yang membawa pada kesuksesan. Kesuksesan seseorang bisa menjadi motivasi bagi kamu untuk tidak menyerah.


3. Fixed mindset: “Malu-maluin deh kalau buat salah!”, growth mindset: "It's okay to make mistakes! Setiap orang membuat kesalahan dan kesalahan merupakan kesempatan untuk belajar."

Perlakukan kesalahan dari sudut yang berbeda. Cobalah untuk rayakan kesalahanmu dengan mengatakan pada dirimu sendiri, "Aku buat kesalahan, tapi aku belajar sesuatu dari kesalahan ini." Lama-lama pola pikirmu akan terlatih melihat kesalahan yang kamu buat dengan kesempatan belajar.
Ketika berbuat kesalahan, akui dan pikirkan apa yang kamu dapat dari pengalaman tersebut.

 
Jadi, yang manakah kamu Teman Mindy? Apa pun jawabanmu, yang penting sekarang kamu sudah tahu bagaimana cara untuk menumbuhkan growth mindset. Untuk tahu lebih lanjut soal growth mindset, pelajari di free program dari Mindtera di sini

Rekomendasi Program Sesuai Artikel Ini

Mengenal Self-growth
Siap untuk mewujudkan versi terbaik dari dirimu di dunia pekerjaan? Intip program ini, untuk selangkah lebih maju. Siapkan dirimu dan ikuti dengan baik, ya. Selamat berproses!
Proaktif
Sadar nggak sih, kalau ternyata meski dalam kesempitan, pasti selalu ada kesempatan? Kalau kamu menyadarinya, tandanya kamu adalah seorang proaktif. Menjadi proaktif dapat membuat hidupmu lebih efektif yang penuh inisiatif. Yuk, belajar menjadi proaktif supaya tetap optimis dan berpikir positif dalam situasi terburuk sekalipun.
Unlock Your Full Potential
Hal yang penting dalam menggali potensi diri adalah ketika kita bertransformasi menjadi seseorang yang lebih baik, dengan belajar dari kegagalan dalam hidup, termasuk dalam berkarier. Simak perjalanan Cynthia Satrya Hasan yang inspiratif dalam menggali dan menemukan postensi diri, di program kali ini.

Share this article