Kenali 5 Tahapan Burnout Sebelum Kamu Mengalaminya
Karir
June 29, 2022

24 jam sehari terkadang terasa kurang bagimu untuk menjalankan segala aktivitas. Urusan pekerjaan, keluarga, pertemanan, bisa sangat menyita waktu dan memaksa kepalamu untuk membagi fokus terhadap banyak hal. Di tengah padatnya rutinitas tersebut, mungkin adakalanya kamu merasa kewalahan saat menjalaninya. Kamu merasa kehabisan energi, lelah secara mental dan fisik, serta kehilangan semangat untuk bekerja.

Nah, hati-hati, jika kamu merasa kelelahan yang berkepanjangan, kamu lebih rentan mengalami burnout. Kelelahan berkepanjangan yang dikenal sebagai burnout ini bukan hanya keadaan pikiran, namun merupakan sindrom nyata yang mempengaruhi banyak pekerja.

tahapan burnout yang harus kamu kenali

Apa itu burnout?

Burnout adalah keadaaan dimana kamu mengalami stres yang cukup berat sehingga mengalami kelelahan fisik, mental, dan emosi akibat pekerjaan yang berkepanjangan, berlarut-larut, sampai kamu tidak sadar bahwa kamu sudah kehabisan tenaga dan hilang semangat untuk bekerja.

Kondisi ini adalah sindrom–bukan diagnosis medis–yang disebabkan oleh “stres kronis di tempat kerja yang belum berhasil dikelola,” menurut WHO. Dalam konteks ini, faktor-faktor eksternal seperti disfungsi tempat kerja, menjadi penyebab burnout utama.

Hal-hal yang bisa membuatmu job burnout

  • Pekerjaan yang berat (seperti load pekerjaan yang terlalu banyak, selalu lembur)
  • Atasan yang tidak kooperatif
  • Rekan kerja yang tidak kooperatif
  • Lingkungan pekerjaan yang cenderung negatif (misalnya tidak membantu tetapi cenderung sering menyalahkan tanpa memberi solusi, tidak ada apresiasi terhadap pekerjaan yang sudah dilakukan)
  • Jarak tempat tinggal dan kantor yang jauh (stres terjebak macet di jalan)
  • Gaji yang tidak sesuai
  • Bekerja tidak sesuai minat

Apa saja 5 tahapan burnout?

Burnout bukanlah sindrom yang timbul secara tiba-tiba. Sebaliknya, pikiran, perasaan, dan tindakanmu berkembang melalui serangkaian tahapan. Tahap awal mungkin tidak terasa signifikan, tetapi pada akhirnya dapat mengarah pada fase kebiasaan yang membuatmu sulit untuk melakukan pekerjaan.

1. Honeymoon Phase

Seperti fase bulan madu dalam pernikahan, fase ini hadir dengan energi dan optimisme. Baik itu memulai pekerjaan baru atau menangani tugas baru, kamu tentu berekspektasi untuk kepuasan kerja yang tinggi, komitmen, dan kreativitas. Di tengah semangatmu yang tinggi itu, mungkin semakin lama kamu mulai mengalami tekanan karena bertambahnya pekerjaan yang harus kamu lakukan. Jika terus melakukan hal ini tanpa menimbang waktu dan energi, kamu akan rawan mengalami tahap selanjutnya, yaitu early stress.

2. Early Stress

Akhirnya, fase bulan madu terlewati dan kamu mulai mengalami stres. Tidak setiap detik kamu merasa stres, tetapi ada saat-saat ketika stres menjadi lebih sering melandamu. Saat tahap ini dimulai, perhatikan tanda-tanda fisik atau mentalmu. Kamu mungkin mulai kehilangan fokus dengan lebih mudah atau menjadi kurang produktif saat menyelesaikan tugas. Secara fisik, kelelahan mulai melanda sehingga lebih sulit untuk tidur atau menikmati aktivitas di luar pekerjaan.

3. Chronic stress phase

Kamu akan mencapai titik di mana stres menjadi lebih persisten, atau kronis. Saat tekanan yang kamu alami terus meningkat, stres cenderung memengaruhi pekerjaanmu secara konsisten. Termasuk perasaan apatis, tidak menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, terlambat bekerja, atau menunda-nunda menyelesaikan pekerjaan. Secara sosial, kamu mungkin menarik diri dari percakapan yang berhubungan dengan pekerjaan. Dalam kasus lain, kamu mungkin menjadi marah atau bahkan hingga mengganggu rekan kerja. Bahkan terkadang, perasaan ini dapat memengaruhi hubungan dengan teman dan keluarga.

4. Burnout phase

Tahapan burnout ini adalah saat kamu sudah mencapai batas dan tidak dapat lagi beraktivitas seperti biasanya. Masalah di tempat kerja mulai memakan waktumu sampai kamu terobsesi. Terkadang, kamu mungkin juga merasa mati rasa dan mengalami rendah diri yang ekstrem. Gejala fisik akan menjadi semakin intens, menyebabkan sakit kepala kronis, masalah perut hingga masalah pencernaan. Teman dan anggota keluarga mungkin juga memperhatikan perubahan perilakumu.

5. Habitual burnout phase

Jika tidak diobati, burnout dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-harimu dan akhirnya menyebabkan kecemasan yang berlebihan. Kamu juga dapat mulai mengalami kelelahan mental dan fisik kronis yang menghalangimu untuk bekerja. Kalau kamu merasa sudah berada di tahap ini, jangan ragu untuk segera meminta bantuan profesional, ya. Kesehatanmu jauh lebih penting daripada pekerjaan.

Karena itu, mulai dari sekarang yuk rutin check up keadaan diri sendiri. Kalau saat ini kamu masih ragu kamu berada di tahap burnout mana, coba lakukan assessment dengan tools dari Mindtera. Dengan begitu, kamu dapat mengukur tahapan burnout yang mungkin kamu alami saat ini. Mulai check up sekarang, yuk!

lagi burnout di pekerjaan? check up sekarang yuk
Lagi burnout? Yuk, checkup sekarang!

Share this article