Atasi Self-Critic Saat Bekerja

Karir

November 28, 2022

Saat bekerja, tentu kita dituntut untuk memberikan kinerja terbaik kita agar hasilnya maksimal. Namun begitu, adalah suatu hal yang wajar, jika sesekali melakukan kesalahan. Saat melakukan kesalahan atau ada sesuatu yang kurang dari kerjaan kita, kita mungkin dikritik mengenai hal tersebut. Misalnya, kita telat mengirimkan kerjaan atau attach file yang salah saat kirim ke klien.

Tapi sadarkah kamu, kritik paling pedas justru tidak datang dari rekan kerja atau atasanmu? Kritik paling pedas justru datang dari diri sendiri, atau biasa disebut self-critic. Orang yang sering self-critic kerap kali menyiksa diri sendiri saat melakukan kesalahan, sekecil apa pun, di tempat kerja. Misalnya, mereka melabeli diri sendiri “bodoh”, “tidak becus”, atau “tidak berbakat” saat salah mengetik kerjaan. Hal ini tentu menyiksa diri sendiri, bukan?

Ciri-Ciri Kamu Self-Critical

Self-critical di pekerjaan

Seseorang dengan self-critic biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Sering membandingkan diri dengan orang lain.
Selain membuat mereka jadi tidak percaya diri, orang-orang yang membandingkan diri dengan orang lain cenderung mengkritik diri sendiri dan bertanya-tanya mengapa hidup mereka tidak seperti hidup orang yang menjadi pembanding mereka.

2. Sering menyalahkan diri sendiri terhadap segala situasi.
Mereka sering merasa bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi di sekitar mereka, bahkan meskipun situasi tersebut bukan salah mereka.

3. Sering menahan diri untuk beropini.
Orang yang sering self-critic selalu ragu dengan opini mereka. Mereka takut jika mereka beropini, opini mereka terdengar buruk.

4. Sering tidak puas dengan segala pencapaian mereka, sebesar apa pun.
Mereka merasa mereka tidak melakukan yang terbaik dan hasilnya sangat buruk, meskipun orang lain memuji mereka.

5. Mereka punya standar yang sangat tinggi dan cenderung tidak realistis.
Misal saja, mereka percaya bahwa mereka tidak layak jika mereka tidak sangat rupawan, pintar, atau kaya raya.

Apakah kamu merasa memiliki ciri-ciri di atas? Untuk mengatasi hal tersebut, kamu bisa mencoba mengubah self-critic menjadi self-compassion. Ada beberapa langkah yang bisa kamu ambil untuk mengatasinya. Simak baik-baik, ya!


Mengubah Self-Critic Menjadi Self-Compassion


Pertama, ketika kamu sedang mengkritik dirimu sendiri, sadari bahwa kamu sedang melakukan self-critic. Pantau dan perhatikan bagaimana kamu bicara tentang dirimu sendiri.

Kedua, kamu bisa mengubah cara bicara pada dirimu sendiri menjadi lebih lembut. Misal, ketika self-critic-mu muncul, kamu bisa membalasnya dengan mengucapkan, “Aku mengerti kok kamu khawatir, tapi aku jadi terluka karena itu. Boleh ya, kali ini aku bicara yang baik-baik saja ke diriku sendiri.”

Terakhir, coba ubah kata-kata yang kesannya “keras” menjadi lebih lembut. Ubah sudut pandang self-critic kamu. Misal, ketika kamu gagal diterima atau mendapatkan pekerjaan impianmu, daripada kamu membatin “Masa sih gini saja gagal?!”, kamu bisa lebih memilih untuk mengatakan “Nggak apa kalau kali ini gagal. Sukses kan nggak selalu di kantor itu.”

Dengan menerapkan beberapa cara di atas, pelan-pelan kamu bisa mengatasi self-critic saat bekerja agar kinerjamu lebih baik lagi. Cari tahu lebih banyak soal self-critic di program Self-Compassion bersama Mindtera.



Let's discuss further

We help organizations solve their most pressing problems. Please use the following options to contact us, so we can better understand your organization's needs and how we can help.

Contact Us

Let's discuss further

We help organizations solve their most pressing problems. Please use the following options to contact us, so we can better understand your organization's needs and how we can help.

Contact Us

Let's discuss further

We help organizations solve their most pressing problems. Please use the following options to contact us, so we can better understand your organization's needs and how we can help.

Contact Us